Pengertian Sholat Sunnah Jum’at

Sebelum memasuki pengertian Jum’at, di sini penulis akan menjelaskan dulu pengertian shalat dari segi bahasa maupun istilah. Dalam hal ini adalah perbedaan pendapat tentang arti dan asal dari kata shalat yaitu:

Ada yang berpendapat bahwa kata “shalat” berasal dari bahasa Ibrani yaitu kata shaluta yang berarti “ tempat beribadah orang-orang Yahudi dan orang-orang Ahli Kitab” .1

Baca juga:  Teks khutbah Jumat terbaru

Dalam Kamus Bahasa Arab, kata “ shalat” berasal dari bahasa Arab artinya “ berdo’a” dan “ mendirikan” .2 Hasbi ash-Shiddieqy dalam buku Pedoman Shalatnya juga mengatakan bahwa perkataan “ shalat” dalam pengertian bahasa Arab ialah “ do’a memohon kebajikan dan pujian” .3 Dalam hal ini Imam Taqiyuddin Abu Bakar dalam Kitab Kifayah al-Akhyar juga menegaskan bahwa shalat mempunyai arti “ do’a” ,4 pendapat ini didasarkan pada Firman Allah yaitu:

Dan berdo’alah untuk mereka, karena sesungguhnya do’amu itu menenangkan dan menentramkan merka. (QS. at-Taubah: 103)5

Imam Abu Zakaria al-Anshari mengatakan bahwa:
Artinya: “ Shalat dari Allah SWT adalah Rahmat dari malaikat berarti permohonan ampun dan dari manusia adalah mendekatkan diri dan berdo’a”

Pengertian tersebut juga ditemukan dalam buku Pemahaman Shalat dalam al-Qur’an dengan penjelasan bahwa shalat bermakna istighfar atau minta ampun.7 Sebagaimana Firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 99:

… Dan (sebagai jalan untuk) memperoleh do’a Rasul …. (QS. at- Taubah: 99)8

Dan juga bermakna “ rahmat”9 seperti dalam Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 157:

Mereka itulah mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya …. (QS. al-Baqarah: 157)10

Sedangkan arti shalat menurut istilah syara’ (terminologi Islam) adalah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam.11 Dalam hal ini Muhammad Noor Matdawam dalam bukunya Bersuci dan Shalat serta Butir-butir Hikmahnya menuturkan bahwa menurut istilah syara’, shalat ialah “ suatu ibadah yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan di akhiri dengan salam, serta dilengkapi dengan beberapa perbuatan dan ucapan.

Kemudian hal ihwal yang berhubungan dengan shalat itu disesuaikan dengan ketentuan yang diajarkan ataupun dicontohkan oleh Rasulullah.12 Sebagaimana yang ditegaskan oleh beliau:

Artinya: “ Dari Malik bin Huwairis, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: Shalatlah kalian sebagaimana lihat aku shalat” . (HR. Bukhari)

Dalam kitab-kitab fiqih juga banyak menjelaskan tentang pengertian shalat dengan pengertian yang tidak jauh berbeda seperti dalam kitab Fath al-Qarib al Majid dijelaskan bahwa makna shalat yaitu:

Artinya: “ Pengertian shalat menurut hokum syari’at seperti ucapan Imam Rafi’i adalah segala ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir al-ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu”

Kemudian pengertian Jum’at dari segi bahasa yaitu berasal dari kata jama’a yang berarti mengumpulkan. Oleh sebab itu, hari Jum’at berarti hari berkumpul bagi umat Islam di masjid. Abdullah bin Abbas sahabat nabi Muhammad saw. mengatakan bahwa dinamakan al-Jum’ah karena pada hari itu berkumpul seluruh kebaikan. Hari penciptaan nabi Adam as. atau hari-hari berkumpulnya kembali nabi Adam as. dan Siti Hawa di bumi.15

Pada zaman Jahiliyah, hari Jum’at disebut dengan Yaum al-Arubah (hari yang jelas dan agung) dan Yaum ar-Rahmah (hari penuh rahmat). Di dalam sejarah Islam disebutkan bahwa tokoh Arab pertama yang mengubah Yaum al-‘Arubah menjadi Yaum al-Jum’ah adalah Ka’ab bin Lu’ay, kakek nabi Muhammad saw.16 Menurut Ali ash-Shabuni dalam tafsirnya mengatakan bahwa:

Artinya: “ Jum’at adalah hari yang dikenal atau hari kebaikan dan hari itu sebagai hari raya mingguan buat orang Islam” .

Menurut Imam Taqiyuddin Abu Bakar dalam kitab Kifayah al- Akhyar mengatakan bahwa shalat Jum’at dinamakan “ Jum’ah” sebab shalat itu harus dilakukan berjama’ah.18 Kalau Syaikh Zainuddin dalam kitabnya Fath al-Mu’in mengatakan sebab dinamakan shalat Jum’at karena pada hari Jum’at itu manusia berkumpul untuk mengerjakan (shalat Jum’at)” .19

Sedangkan menurut Muhammad Noor Matdawan dalam bukunya Bersuci dan Shalat serta Butir-butir Hikmahnya mengatakan bahwa Jum’at adalah salah satu nama hari dalam Islam, sebab diberi nama Jum’at, karena pada hari itu orang-orang (masyarakat) Islam pada berkumpul untuk mengerjakan shalat Jum’at berjama’ah. Jadi, kata (sebutan) Jum’at itu diambil dari kata al-jam’u (berkumpul berjama’ah). Sebab dinamakan shalat Jum’at karena kita mengerjakan shalat tersebut pada hari Jum’at.20

Dasar Hukum Shalat Jum’at

Tentang dasar hukum diwajibkannya shalat Jum’at dapat kita jumpai dalam al-Qur’an maupun hadis-hadis nabi Muhammad serta ijma’ para ulama.

1. Dasar dari al-Qur’an

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Jum’ah: 9)21

Allah memerintahkan supaya bersegera, sedangkan perintah itu menunjukkan kewajiban, dan kewajiban untuk bersegera itu tidak wajib melainkan kepada sesuatu yang wajib pula. Dia juga melarang jual beli, agar jual beli tersebut tidak melalaikan dirinya dari shalat Jum’at. Sekiranya shalat Jum’at tidak wajib, niscaya tidak dilarang jual beli. Yang dimaksud dengan “ bersegera” (as-sa’yu) di sini adalah pergi untuk melaksanakan shalat Jum’at, bukan al-Isra’ (bercepat-cepat), sebab as-sa’yu dalam Kitabullah tidak bermakna bercepat-cepat.22

2. Dasar dari al-Hadis

Selain dasar dari al-Qur’an di atas, juga ada beberapa hadis dari Nabi yaitu di antaranya:
Artinya: “Dari Ibnu Umar dari Hafsah istri Nabi saw. bahwa sesungguhnya Nabi bersabda

“ Mendatangi shalat Jum’at itu wajib atas setiap orang yang sudah baligh” . (HR. Nasa’i)

“ Dari Thariq bin Syihab dari Nabi saw. bersabda: Shalat Jum’at wajib bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali bagi empat orang yaitu: hamba sahaya, wanita, anak kecil, dan orang sakit” . (HR. Abu Dawud)

Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi saw. bersabda: Shalat Jum’at itu wajib bagi orang yang mendengar panggilan adzan” . (HR. Abu Dawud)

Dari Abi Ja’ad al-Dhamiri, salah seorang di antara sahabat Nabi saw., bahwa Nabi saw. telah bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali dengan berturut- turut yang bertujuan meremehkan maka sesungguhnya Allah telah menutup hatinya” . (HR. Abu Dawud)

Kemudian mengenai kewajiban shalat Jum’at berdasarkan ijma’ adalah ittifaqnya para ulama. Ulama al-Mazahib bahwa shalat Jum’at adalah salah satu ibadah mahdah yang hukumnya fardlu ‘ain.27

1 Nahd bin Abdurrahman bin Sulaiman Arrumi, Pemahaman Shalat dalam al-Qur’an, terj. Deden Suhendar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, Cet. I, 1994, hlm. 1.
2 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1973, hlm. 220
3 Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat, Cet. Ke-2, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1997, hlm. 64.
4 Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini, Kifayah al-Akhyar, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, hlm. 82.
5 R.H.A. Soenarjo, dkk., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Bumi Restu, hlm. 298.
6 Abu Zakaria al-Anshori, Fath al-Wahab, Jilid I, Semarang: Toha Putra, t.th., hlm. 2.
7 Nahd bin Abdurrahman, op. cit., hlm. 2.
8 R.H.A. Soenarjo, dkk., op. cit., hlm. 297.
9 Nahd bin Abdurrahman, op. cit., hlm. 3.
10 R.H.A. Soenarjo, dkk., op. cit., hlm. 39.
11 Lahmudin Nasution, Fiqh I, Jakarta: Logos, hlm. 55.
12 M. Noor Matdawam, Bersuci dan Serta Butir-butir Hikmahnya, Cet ke-3, Yogyakarta: Yayasan Bina Karier, 1988, hlm. 88.
13 Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulugh al-Maram, Beirut: Dar al-Kutub al-Islami, t.th., hlm.

14 Muhammad bin Qasim al-Ghazali, Fath al-Qarib al-Mujib, Semarang: Toha Putra,t.th., hlm. 11.
15 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, Cet. I, hlm. 1579.
16 Ibid.
17 Muhammad Ali ash-Shabuni, Tafsir Ayat Ahkam, Juz II, Beirut: Dar al-Fikr, t.th., hlm. 570.

18 Taqiyuddin Abu Bakar, op. cit., hlm. 39.

19 Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in, Semarang: Toha Putra, t.th., hlm.
20 M. Noor Matdawam, op. cit., hlm. 166.
21 R.H.A. Soenarjo, dkk., loc. cit .

22 Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani, Risalah Jum’at; Keutamaan, Kekhususan, Adab, Hukum dan Fatwa, terj. Ahmad Syaikhu, Cet 1, Jakarta: Darul Haq, 2004, hlm. 6.
23 Imam Nasa’i, loc. cit.
24 Imam Abu Dawud, op. cit., hlm. 278.

Pos ini dipublikasikan di Fiqih dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s