Pengaruh Pemberian Pupuk Kotoran Kelinci Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kailan Pada Tanah Alluvial

Pelihara Kelinci Hias di rumah

Pelihara Kelinci Hias di rumah

Yessy Anggrayni1), Putu Dupa Bandem dan Achmad Mulyadi Sirojul2) 1)Mahasiswa,2)Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

ABSTRACT

Kailan is one of the cabbage family vegetables to meet the nutritional needs of the community. Kailan on alluvial soil cultivation faced several obstacles, such as texture clay, topsoil is shallow, nutrient content an

d low organic matter and soil acidity level is high enough. One of the organic material that can be used to solve problems in the cultivation kailan alluvial soil is rabbit droppings. This study aimed to determine the effect of fertilizer and looking for the best rabbit dung and crop growth on soil aIluvial kailan. This study uses a pattern completely randomized design (CRD), which consists of 5 treatments and 5 replications. Each quiz consists of 4 samples of plants, so that a total number of 100 plants. The treatment in question is as follows: k0 = Without rabbit manure, k1 = 94 g/polybag rabbit manure, k2 = 446 g/polybag rabbit manure, k3 = 797 g/polybag rabbit manure, k4 = 1149 g/polybag rabbit manure. The variables measured were: leaf chlorophyll (spad unit), the top of the plant fresh weight (g), leaf area (cm2), root volume (cm3) and dry weight of plant (g). Provision of rabbit manure on crops kailan in alluvial soil significantly influenced all variables observations. The best results are indicated in the treatment with a dose k2 of 446 g/polybag for leaf chlorophyll content with the result of 45,76 spad unit, the top of the plant fresh weight by 19,44 g yield, leaf area to yield 14,14 cm2, root volume with results 4,4 cm3 and dry weight of plants to yield 5,68 g.
Keywords: Kailan, Rabbit manure, Soil Alluvial

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Tanaman kailan (Brassica oleraceae Var. Acephala) merupakan salah satu  jenis sayuran famili kubis-kubisan (Brassicaceae) yang berasal dari negeri China. Kailan masuk ke Indonesia sekitar abad ke – 17, namun sayuran ini sudah cukup populer dan diminati di kalangan masyarakat, sehingga memiliki prospek pemasaran yang cukup baik. Usaha dan pengembangan sayuran komersil dapat dipertimbangkan sebagai salah satu usaha dalam meningkatkan pendapatan di bidang pertanian. (Dermawan, 2009).

Kailan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, yaitu dalam setiap 100 gram bahan mentah kailan mengandung 3500 IU vitamin A, 0,11 mg vitamin B1, 90 gram air, 3,6 gram lemak, 1,6 mg niasin, 78,0 mg kalsium, 1,0 mg besi, 38,0 mg  magnesium dan 74,0 mg fosfor (Yamaguchi, 1983).

Untuk membudidayakan tanaman kailan dibutuhkan lahan yang subur agar pertumbuhannya baik, tetapi lahan yang subur untuk penanaman terbatas. Hal-hal tersebut mendorong digunakannya lahan-lahan marginal yang bermanfaat seperti tanah alluvial. Menurut Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (2007) luas penyebaran tanah alluvial mencapai 15.111,87 km2 atau 10,29%  dari luas wilayah Kalimantan Barat.
Sebagai media tumbuh tanah alluvial dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain tekstur liat, lapisan olah yang dangkal, kandungan hara dan bahan organik rendah serta tingkat kemasaman  tanah yang cukup tinggi (Soepardi, 1983). Hasil analisis tanah alluvial, yaitu 4,25% C-Organik, 0,35% Nitrogen, 6,90 ppm Pospor, 0,40 me/100 gram Aluminium, 2,77% Pasir, 58,83%  debu, 38,40% liat, dan pH nya sebesar 4,59 (Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, 2012), oleh karena itu untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah alluvial tersebut maka diterapkan pertanian organik.

Salah satu bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan budidaya kailan pada tanah alluvial adalah kotoran kelinci. Kotoran merawat kelinci merupakan salah satu jenis bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi kailan, hal ini dikarenakan pemberian kotoran kelinci dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah kerena bahan organik yang diberikan pada tanah sehingga dapat menggemburkan tanah. Ada banyak jenis pupuk, tetapi dari sekian jenis pupuk kandang pupuk kelinci yang terdiri dari tahi (feses) dan kencing (urine) yang dipadukan dan akan menjadi pupuk handal untuk menghasilkan produksi tanaman.

B.    Perumusan Masalah

  1. Tanah alluvial merupakan tanah mineral yang kurang menguntungkan untuk budidaya tanaman kailan karena mempunyai tingkat kemasaman sangat masam, kandungan unsur hara seperti N, P dan K yang kurang tersedia.
  2. Ketersediaan kapur yang terbatas dan harganya relative mahal.
  3. Menekan penggunaan pupuk an organik dalam budidaya.

Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba menjawab pertanyaan:

  1. Apakah pemberian pupuk kotoran kelinci akan memberikan pengaruh terhadap tanaman kailan?
  2. Pada dosis berapakah pupuk kotoran kelinci yang efektif dapat mempengaruhi  pertumbuhn dan hasil tanaman kailan yang terbaik?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pemberian pupuk kotoran kelinci yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan pada tanah aluvial.

D.    Hipotesis

Diduga dengan pemberian pupuk kotoran kelinci dengan dosis 446 g/polybag pada tanah alluvial akan memberikan pengaruh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan.

METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Pelaksanaan penelitian dimulai dari tanggal 11 juni 2012 sampai tanggal 15 juli 2012.

B.    Bahan dan Alat

Bahan : Kayu, paku, plastik   transparan dan jala.

Alat : Ayakan, arit, parang, palu, paku, gergaji, meteran, cangkul, timbangan, ember, gembor, bak persemaian, termometer, higrometer, alat tulis menulis, alat dokumentasi, serta alat- alat laboratorium seperti: Leaf Area Meter, timbangan listrik dan oven listrik.

C.    Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pola sederhana dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 4 sampel tanaman, sehingga jumlah seluruhnya ada 100 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah sebagai berikut:  ko = Tanpa kotoran kelinci, k1 = 94 g/polybag kotoran kelinci, k2 = 446 g/polybag kotoran kelinci, k3= 797 g/polybag kotoran kelinci, k4 = 1149 g/polybag kotoran kelinci.

D.    Pelaksanaan Penelitian

Sebelum dilakukan penanaman, tanah dicampur dengan pupuk kotoran kelinci sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Pemeliharaannya (penyiraman, penyulaman, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit) dan panen.

E.    Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati meliputi kadar klorofil daun, berat segar bagian atas tanaman, luas daun, volume akar tanaman dan berat kering tanaman.

F.    Analisis Data

Analisis data dengan menggunakan ANOVA kemudian data yang berpengaruh nyata  dilanjutkan dengan uji wilayah berganda Duncan taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman meliputi kadar klorofil daun (spad unit), berat segar bagian atas tanaman (gram), luas daun (cm2), volume akar (cm3) dan berat kering tanaman (gram). Pengamatan terhadap hasil tanaman ini dilakukan untuk melihat respon tanaman terhadap perlakuan yang diberikan (pupuk kotoran kelinci).
Rangkuman Hasil Penelitian Pengaruh Pemberian Pupuk Kotoran Kelinci Pada tanah  Alluvial Terhadap Semua Variabel Pengamatan Tanaman Kailan

Rerata kadar klorofil daun tertinggi terdapat pada perlakuan k4 yaitu 47,16 (spad unit), sedangkan kadar klorofil terendah terdapat pada perlakuan k0 yang sebesar 28,94 (spad unit). Rendahnya kadar klorofil yang terdapat pada perlakuan k0 diduga karena rendahnya kandungan Mg dan K yang terdapat pada tanah. Menurut Hakim, dkk (1986), Mg berfungsi membantu translokasi fosfor dalam tanaman dan juga merupakan penyusun klorofil daun. 94 g menunjukan bahwa perlakuan pemberian pupuk kotoran kelinci memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat segar bagian atas tanaman kalian. Diketahui rerata yang berbeda berat segar bagian atas tanaman terdapat pada perlakuan k2 dengan dosis pemberian pupuk kotoran kelinci 446  (g/polybag). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan k2 mampu menciptakan lingkungan fisik, kimia dan biologi tanah yang sesuai bagi tanaman kailan sehingga mampu mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman dengan baik. Luas daun yang tertinggi diperoleh pada taraf perlakuan k2 dengan  nilai hasil rata-rata 14,14 (cm2), sedangkan luas daun yang terendah diperoleh pada taraf perlakuan k0 tanpa menggunakan pupuk kotoran kelinci dengan nilai rata-rata 4,5 (cm2). Pada perlakuan k1, k2, k3 dan k4  pupuk kotoran kelinci yang diberikan sudah menunjukkan adanya pengaruh dari bahan organik tersebut terhadap pertumbuhan tanaman kailan. Pada perlakuan k1, k2, k3, dan k4 kebutuhan tanaman kailan akan bahan organik sudah terpenuhi dengan pemberian pupuk kotoran kelinci, tetapi hasil optimalnya dicapai pada perlakuan k2, hal ini berarti jumlah bahan organik yang diberikan dari pupuk kotoran kelinci dengan dosis (446 g/polybag) sudah menciptakan kondisi lingkungan yang baik dan sesuai bagi pertumbuhan tanaman kailan. Daun merupakan organ tumbuhan penghasilan utama bahan makanan melalui proses yang kompleks dengan bantuan sinar matahari yang disebut fotosintesis (Loveless, 1991). Tanaman kailan adalah salah satu jenis sayuran daun. Bagian yang dikomsumsi adalah daunnya, oleh karena itu memerlukan N yang lebih banyak daripada unsur lainnya. Suplai nitrogen yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dapat meningkatkan kandungan karbohidrat, sehingga pembentukan sel-sel baru menjadi tinggi, kemudian sel-sel tersebut mengalami pembelahan. Diduga perlakuan k2 memberikan pH terbaik 7,02 untuk tanaman, sehingga tanaman dapat terpenuhi kebutuhan hara yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Apabila pH di dalam tanah sesuai dengan pH yang diinginkan tanaman maka akan mendorong perbaikan terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Harjadi (1991), mengatakan bahwa bila unsur yang dapat diabsorpsi cukup akan menciptakan keadaan media tumbuh yang baik untuk mempelancar proses-proses yang berlangsung di dalam tubuh tanaman. Pembelahan sel terjadi pada pembuatan sel-sel baru di dalam jaringan meristematik dan sel-sel baru ini memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang besar, sehingga berpengaruh langsung dalam pengembangan batang, daun serta perakaran.

Meskipun hasil tertinggi dicapai pada taraf perlakuan k4, namun hasil 2,84 g menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk kotoran kelinci memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering tanaman kalian. Dapat dikatakan bahwa perlakuan k2 dengan nilai rata-rata 5,68 (g) telah dapat memberikan nilai berat kering tanaman yang optimum, hal ini berarti bahwa jumlah bahan organik yang diberikan dari pupuk kotoran kelinci pada perlakuan k2 dengan dosis (446 g/polybag) sudah menciptakan kondisi yang baik dan sesuai bagi pertumbuhan tanaman kailan. Dari hasil analisis keragaman terlihat bahwa pengaruh pupuk kotoran kelinci berpengaruh nyata terhadap variabel kadar klorofil daun, berat segar bagian atas tanaman, volume akar dan berat kering pada perlakuan k4 (1149 g/polybag) dimana memberikan rerata tertinggi terhadap variabel tersebut, tetapi untuk luas daun pada perlakuan k2 memberikan rerata tertinggi dengan dosis 446 g/polybag, namun hasil semua tidak berbeda nyata dengan perlakuan k4 maka k2 direkomendasi rerata yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan, sedangkan perlakuan k0 (tanpa perlakuan) memberikan rerata terendah terhadap variabel kadar klorofil daun, berat segar bagian atas tanaman, luas daun, volume akar dan berat kering tanaman.

Dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk kotoran kelinci berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan kadar klorofil daun 45,76 (spad unit), berat segar bagian atas tanaman 19,44 (g), luas daun 14,14 (cm2), volume akar tanaman 4,4 (cm3) dan berat kering tanaman 5,68 (g) dengan perlakuan k2 pada dosis 446 g/polybag memberikan rerata terbaik bahan organik dalam tanah.

PENUTUP

A.    Kesimpulan

  1. Pemberian pupuk kotoran kelinci memberikan pengaruh nyata terhadap variabel pengamatan kadar klorofil daun, berat segar bagian atas tanaman, luas daun volume akar dan berat kering tanaman kailan.
  2. Pemberian pupuk kotoran kelinci pada perlakuan k2 dengan dosis 446 g/polybag berpengaruh nyata terhadap kadar klorofil daun, berat segar bagian atas tanaman, luas daun, volume akar dan berat kering tanaman kailan.

B.    Saran

Perlu dilakukan penelitian yang sama dengan memperhatikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman kailan, mengingat kondisi iklim yang sulit diubah, diantaranya dapat dicoba dengan menggunakan varietas lain yang cocok dengan kondisi Kalimantan Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat. 2007. Kalimantan Barat dalam Angka.     Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat: Pontianak.

Dermawan. 2009. pemeliharaan secara ilmiah tepat dan terpadu. Penulis buku     Kailan: Bogor.

Hakim, N., M. Y. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., M. R. Saul., M. K.     Diha., G. B. Hong., H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung.

Harjadi, M. M .S.S. 1991. Pengantar Agronomi. Gramedia: Jakarta.
Loveless, A. K. 1991. Prinsip – Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik,     Jilid 1,Diterjemahkan oleh Kartawinata, dkk. Rajawali Press: Jakarta.

Soepardi, G.1983. Sifat dan ciri tanah. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Yamaguchi, M. 1983. World Vegetable: Principle, Production, & Nutritive Value.     Van Nusland: New York.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Hewan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s