Poligami Dalam Tafsir Al-Munir


  1. A.    Pengertian Poligami

Poligami berasal dari bahasa Yunani yang merupakan penggalan dari dua kata, yaitu poly atau polus yang berarti banyak, dan kata gamie atau gamos berate kawin atau perkawinan.[1] Sedangkan menurut pengertian bahasa, poligami adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu bersamaan. Kebalikan poligami adalah poliandri yang berarti perkawinan dengan lebih dari satu laki-laki.

  1. B.     Poligami dalam Lintas Sejarah

Membicarakan sejarah poligami dalam islam tidak bisa lepas dari pembicaraan mengenai sejarah poligami secara umum. Pada dasarnya, sejarah poligami Islam dan non-Islam berada dalam satu bangunan yang integral dan tidak dipisah-pisah antara satu dengan yang lainnya sebagai sebuah sejarah kemanusiaan. Dengan pandangan integralistik ini, diharapkan mendapatkan gambaran yang utuh dan relatif obyektif mengenai kedudukan poligami dalam Islam.

  1. Poligami Sebelum Islam Datang

Dalam pembicaraan tentang sejarah poligami dari masa pra Islam sampai pasca Islam, tentu akan melewati sebuah fase sejarah yang oleh banyak kalangan intelektual disebut dengan istilah Jahiliyah. Istilah ini sangat identik dan populer dengan zaman kebodohan.

Tidak dapat dipunngkiri bahwa sebelum kedatangan Nabi saw. yang membawa pesan al-Quran, agama samawi, umat terdahulu telah mempraktekkan sistem poligami. Pada masa itu, kaum wanita menempati kedudukan terendah sepanjang sejarah umat manusia. Masyarakat arab pra Islam memandang wanita ibarat binatang piaraan, atau bahkan lebih hina. Mereka sama sekali tidak mendapatkan penghormatan sosial dan tidak memiliki hak apapun. Kaum lelaki dapat saja mengawini wanita sesuka hatinya, demikian pula mereka gampang saja menceraikan sesuka hatinya.[2]

Pada masyarakat pra Islam, sebagaimana dicatat oleh al-Quran, perempuan juga bukan hanya dihina, tapi kalau perlu disingkirkan, dan dimusnahkan. Hal ini terungkap dalam surat al-Nahl ayat 58-59 sebagai berikut:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)

Artinya :

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah (58) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

Pada masyarakat jahiliyah, tidak hanya poligami yang berkembang, tetapi poliandri juga dipraktekkan. Seorang laki-laki di samping mempunyai banyak isteri, mereka juga memiliki sejumlah gundik. Suami juga sering kali mengizinkan isterinya “bergaul” dengan lelaki lain untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Wanita-wanita lajang biasanya pergi ke luar kota menjalin pergaulan bebas dengan pemuda kampong. Seorag isteri dapat saja dikawini oleh anaknya dan bahkan sering terjadi perkawinan sekandung.[3] Cukup banyak fakta sejarah yang membuktikan kebenaran kondisi sosial dan moral pada masa jahiliyah.

Hal ini juga diakui oleh Mustafa al-Sibai sebagaimana dikutip Nasaruddin Baidan, bahwa poligami itu sudah ada di kalangan bangsa-bangsa yang hidup pada zaman Purba, zaman Yunani, Cina, India, Babilonia, Assyiria, Mesir, dan lain-lain.[4]

Kondisi moral dan sosial tersebut tidak hanya melanda Jazirah Arab saja, melainkan juga terjadi di seluruh penjuru dunia. Di dalam agama samawi yang lain seperti Yahudi dan Kristenn juga tak ada larangan poligami, bahkan dalam agama yahudi, sebagaimana dikutip al-Sibai, kebolehan berpoligami tanpa batas. Nabi-nabi yang namanya tersebut dalam taurat, semuanya berpoligami tanpa pengecualian. Dan ada kalangan Nabi Sulaiman as. Mempunyai 700 orang isteri merdeka dan 300 orang berasal dari budak. Sedangkan dalam agama Kristen tidak ada keterangan tegas melarang poligami, yang ada hanyalah ajaran untuk mengambil seorang perempuan menjadi isteri. Bahkan al-Sibai membaca dalam surat-surat Paulus yang menegaskan kebolehan berpoligami, sebagaimana dikatakannya “Tidak mesti seorang uskup menjadi suami dari seorang isteri saja, dan menetapkan peraturan demi peraturan yang demikian itu kepada uskup adalah menjadi alasan tentang bolehnya poligami itu untuk orang lain yang bukan uskup. Dalam kaitan ini, sejarah mencatat baik umat Kristen maupun bapak-bapak gereja pada zaman lampau mempunyai banyak isteri.[5]

Dalam agama Hindu, poligami dilakukan sejak zaman bahari. Seperti yang dilakukan oleh bangsa lain, poligami yang berlaku dalam agama Hindu tidak mengenal batasan tertentu mengenai perempuan yang boleh dinikahi, bahkan Brahma yang berkasta tinggi sampai sekarang boleh mengawini siapapun yang disukainya tanpa adanya batasan.[6]

Berdasarkan fatwa sejarah, sebagaimana dipaparkan di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa sistem poligami seperti yang dipraktekkan oleh umat abad modern sekarang, termasuk umat islam, merupakan sebuah kelanjutan tradisi yang telah dipraktekkan oleh umat-umat terdahulu. Akan tetapi dalam Islam ada batasan tersendiri, yaitu maksimal empat orang isteri dan lebih teratur dengan persyaratan-persyaratan yang ketat, tidak sewenang-wenang. Poligami sejarah poligami juga menepis anggapan bahwa sistem poligami berasal dari Nabi Muhammad saw.

  1. Poligami Setelah Islam Datang

Islam datang dengan membawa pesan moral kemanusiaan yang tidak ada bandingannya dalam agama manapun. Ketika Nabi Muhammad saw. membawa pesan islam datang, kebebasan berpoligami itu tidak serta merta dihapuskan, namun setelah ayat menyinggung poligami diwahyukan, Nabi saw. lalu melakuka perubahan sesuai petunjuk kandungan ayat. Pertama, membatasi jumlah bilangan isteri hanya empat. Kedua, islam menetapkan bagi seorang pria yang melakukan poligami untuk berlaku adil terhadap semua isterinya.

  1. C.    Poligami dalam Tafsir al-Munῑr

Berangkat dari sebuah ayat al-Quran surat al-Nisa ayat 3 yang berbunyi :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

Artinya :

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim” (Q.S. Al Nisa : 3)

  1. Al I’rab

فِي الْيَتَامَى        : menghilangkan mudhaf (الْيَتَامَى نكَاح فِي)

مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ : mansub karena badal dari ﴾ مَا )

فَوَاحِدَةً            : artinya (وَاحِدَةً فَانْكِحُوا) jawab syarat dari (فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا). Dapat pula dibaca rafa’ sebagai khabar dari mubtada’ yang mahdzuf (dibuang) dengan lafadz (فهي واحدة) atau sebagai mubtada’ yang khabarnya dibuang (أة واحدة تقنع فامر). Adapun yang petama disebutkan lebih utama.

  1. Al-Mufradat al-Lughawiyah

تُقْسِطُوا          : berlaku adil, tidak berbuat zalim. Lafadz (قسط أ) bermakna ((عدل artinya berbuat adil,[7] sebagaimana Firman Allah swt surat al-Hujurat ayat 9 yang berbunyi:

وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sedangkan lafadz (قسط) artinya (جار) sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Jin ayat 15 berikut ini :

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

مَا طَابَ لَكُمْ     : hati yang condong di antara para wanita

مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ           : lafadz bilangan yang merupakan peralihan dari kata 2, 3, dan 4

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا : pada mereka dalam hal nafkah dan pembagian dalam bergaul dan bermalam

فَوَاحِدَةً          : nikahilah satu saja

أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ : cukuplah bagi kalian atas budak-budak, jika mereka tidak memiliki hak atas suami-suami mereka

ذَلِكَ             : artinya nikah 4 isteri saja atau satu saja

أَدْنَى             : lebih dekat kepada

أَلَّا تَعُولُوا        : akan tidak berbuat lalim, artinya itu lebih dekat pada peniadaan kelaliman

  1. Sabab al-Nuzūl Surat Al-Nisa ayat 3
    1. Diriwayatkan oleh al-Bukhāri, Muslim, al-Nasāi, al-Baiḥaqi, dan selain mereka dari ‘Urwah bin Zubair bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah r.a. tentang ayat ini, lalu ‘Aisyah r.a. berkata: “Wahai anak saudariku, anak perempuan yatim ini berada dalam asuhan walinya, lalu walinya tertarik pada kekayaan dan kecantikannya. Dia menginginkan untuk menikahinya dengan mahar yang kurang dari wantia sepadannya, maka hal itu dilarang kecuali ia memberi mahar sesuai umumnya wanita yang sepadan dia. Lalu ia diperintahkan untuk menikahi wanita lain boleh sampai bilangan 4 wanita.[8]
    2. Sa’id bin Jubair, Qatādah, Ruba’i, Ḍaḥḥāk, dan al-Suddiy berkata : Para lelaki saat itu sangat serius dalam mengurus harta anak yatim dan mendapatkan kemudahan dalam hal wanita, mereka menikahi  banyak wanita dan kadang berbuat adil, namun terkadang tidak bisa berbuat adil, lalu mereka bertanya tentang anak yatim, lalu turunlah surat al-nisa ayat 2 :“Dan berikanlah oleh kalian harta-harta mereka”. Allah swt menurunkan pula surat al-Nisa ayat 3 : “Dan jika kalian khawatir akan tidak mampu berbuat adil terhadap anak yatim”. Sebagaimana kalian khawatir terhadap anak yatim, maka khawatirlah kalian pada para wanita akan tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah (wanita) yang memungkinkan kalian untuk menegakkan hak mereka, karena wanita itu lemah seperti anak yatim. Ini merupakan perkataan Ibnu Abbas pada riwayat al-Walibi (Ali bin Rabi’ah bin Nadhlah).[9]
  1. Penafsiran Wahbah al-Zuhaili tentang Surat al-Nisa ayat 3

Maksud dan tujuan diturunkannya ayat ini menurut Wahbah al-Zuhaili adalah keterangan tentang menikahi wanita yang bukan yatim, artinya adalah apabila seseorang khawatir tidak akan memberikan mahar yang semestinya ketika menikahi wanita yang berada dalam asuhannya, maka hendaklah ia berbuat adil pada wanita selainnya, karena jumlah wanita itu sangat banyak dan Allah swt, tidak menyempitkan akan hal itu.[10]

Wahbah al-Zuhaili menafsirkan perintah yang berbunyi (فَانْكِحُوا) sebagai suatu pembolehan (للإ باحة) atau hukumnya boleh,[11] sebagaimana Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 187 (وَكُلُوا وَاشْرَبُوا),  bahwa hal itu bisa menunjukkan kewajiban (للوجوب), artinya wajib meringkas atau membatasi atas jumlah yang telah ditentukan oleh lafadz selanjutnya (مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ), yaitu berjumlah 2 atau 3 atau 4 orang isteri,[12] namun beliau berpendapat bahwa pada asalnya tidak ada kewajiban untuk menikah menurut jumlah tersebut.

Dalam ayat tersebut, Islam membolehkan memiliki isteri lebih dari satu, dengan pembatasan maksimal empat orang isteri, dengan ditunjukkan dengan lafadz (مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ). Lafadz tersebut menunjukkan bahwa (مَثْنَى) itu menunjukkan 2 orang isteri, lafadz (ثُلَاثَ) menunjukkan 3 orang isteri, dan lafadz (رُبَاعَ) menunjukkan 4 orang isteri. Adapun yang dimaksud itu semua adalah adanya izin bagi tiap orang yang akan menikahi isteri sesuai jumlah tersebut, baik mereka setuju ataupun menolak. Isteri yang berjumlah 4 adalah batasan maksimal yang diperuntukkan bagi seorang suami yang akan berpoligami, karena hal itu dapat memungkinkan adanya keadilan antara isteri-isteri.[13]

Mengenai lafadz (فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا), Wahbah al-Zuhaili berpendapat dalam tafsirnya, bahwa jika seseorang itu khawatir tidak akan mampu berbuat adil, maka nikahilah hanya seorang saja, karena orang yang dibolehkan untuk berpoligami atau beristeri lebih dari satu adalah orang yang yakin terhadap dirinya akan mewujudkan keadilan yang telah diperintahkan padanya secara jelas dalam al- Quran surat al-Nisa ayat 129 berikut ini:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ

“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak akan bisa berbuat adil, tidak bisa berbuat adil di sini adalah tentang kecondongan hati.[14] Seseorang mungkin bisa adil dalam pembagian harta, bergaul ataupun memberikan jatah bermalam di rumah isteri masing-masing, namun untuk hal yang satu ini, manusia tidak akan bisa berbuat adil.

Dalam ayat yang sama, terdapat lafadz (أَلَّا تَعُولُوا). Wahbah al-Zuhaili mengartikan lafadz tersebut dengan (ألا تجور) yang atinya akan tidak berbuat lalim. Pendapat beliau merujuk pada pendapat Imam al-Syafi’i tentang lafadz tersebut, yaitu (بألا تكثر عيالكم)  yang artinya dengan tidak memperbanyak kelaliman kalian[15]. Wahbah al-Zuhaili berpendapat, bahwa adanya kelaliman tersebut, merupakan sebab pensyariatan untuk memiliki isteri satu saja, di dalamnya terdapat pula perintah untuk berbuat adil di antara para isteri-isteri.[16] Keadilan yang dituntut di antara para isteri adalah yang bersifat jasmani atau materi, seperti pembagian jatah bermalam di rumah isteri-isteri, penyama rataan  dalam nafkah atau ma’isyah, baik itu makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, sedangkan keadilan yang bersifat tersembunyi atau perkara hati, seperti kecondongan hati dan kecintaan tidak dituntut, karena hal itu bukan termasuk dalam kemampuan manusia dan tidak termasuk dalam batas kemampuannya pula.[17]

Wahbah al-Zuhaili menguatkan pula, bahwa permasalahan hati tidak bisa dibagi secara adil kepada isteri-isteri, sebagaimana Rasulullah saw. lebih condong hatinya kepada ‘Aisyah r.a. dari pada isteri lainnya sebagaimana hadis dari ‘Aisyah berikut ini :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يَقْسِمُ فَيَعْدِلُ وَيَقُولُ  )اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِى فِيمَا أَمْلِكُ فَلاَ تَلُمْنِى فِيمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ([18]

Dari ‘Aisyah r.a. berkata, bahwasanya Rasulullah saw. membagi dan berbuat adil, lalu beliau bersabda : “Ya Allah ini adalah pembagianku terhadap apa yang aku miliki, maka janganlah Engkau mencelaku pada apa yang Engkau miliki tetapi tidak aku miliki.” (H.R. Abu Daud)

Sebagaimana telah penulis paparkan pada bab II, salah satu kelebihan dari kitab tafsir ini adalah dalam sistematika pembahasan Wahbah al-Zuhaili, di antaranya adanya fiqh al-hayāt wa al-ahkām, yaitu perincian tentang beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari beberapa ayat yang berhubungan dengan realitas kehidupan manusia. Dan ketika terdapat masalah-masalah baru dia berusaha untuk menguraikannya  sesuai dengan hasil ijtihadnya.

Begitu pula dalam surat al-Nisa ayat 3 ini, terutama pembahsan tentang poligami. Wahbah al-Zuhaili menyebutkan pula tentang fiqh al-hayāt wa al-ahkām dalam bahasan poligami, diantaranya ialah :

Pertama, surat al-Nisa ayat 3 tersebut menunjukkan tentang bolehnya seseorang memiliki isteri lebih dari 1 isteri atau poligami sampai batas maksimal sebanyak 4 isteri, sehingga dilarang menikahi wanita lebih dari 4 orang. Maksud dari lafadz ayat (مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ) bukan menunjukkan jumlah isteri yang boleh dipoligami sebanyak 9 orang isteri, karena berdasar pada jumlah isteri Nabi Muhammad saw. Ijma’ para sahabat dan tabi’in membantah pendapat tersebut, yang menyatakan jumlah isteri yang boleh dipoligami sebanyak 9 orang isteri.[19] Imam Malik, al-Nasā’i, dan al-Dāruquthni meriwayatkan pada kitabnya masing-masing hadis berikut ini :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِغَيْلاَنَ بْنِ سَلَمَةَ حِينَ أَسْلَمَ وَتَحْتَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ : )اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ (  

Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda kepada Ghailān bin Salamah ketika ia masuk islam dan ia memiliki 10 orang isteri : “Pilihlah 4 orang dari mereka dan ceraikanlah sisa dari mereka”.

Kedua, Imam Malik, Daud al-ḍāhiri, dan al-Ţabari berpendapat bahwa dhahirnya ayat ini adalah disyariatkannya menikahi 4 orang isteri bagi orang yang merdeka dan budak, karena seorang budak termasuk dalam khitab yang terdapat pada lafadz (فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ), khitab yang ada pada ayat tersebut tidak hanya ditujukan pada seorang yang merdeka, namun berlaku pula bagi seorang budak, sehingga mereka dibolehkan menikahi 4 orang isteri sebagaimana orang yang merdeka.[20]

Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat, bahwa seorang budak tidak diperkenankan menikahi lebih dari 2 orang isteri. Mereka berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Laits dari Hakam berikut ini :

عَنْ لَيْثٍ عَنِ الْحَكَمِ قَالَ : اجْتَمَعَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى أَنَّ الْمَمْلُوكَ لاَ يَجْمَعُ مِنَ النِّسَاءِ فَوْقَ اثْنَتَيْنِ.[21]

Dari Laits, dari Hakam berkata : “Para sahabat Rasulullah saw. sepakat bahwasanya seorang budak tidak boleh mengumpulkan (poligami) lebih dari 2 isteri.”

Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa khitab yang terdapat pada Firman Allah swt. (فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ) tidak termasuk bagi budak, karena bilamana hal itu diperuntukkan bagi semua manusia, maka kapan perempuan yang disukai oleh budak tersebut dapat dinikahinya, karena budak tidak memiliki hal itu, karena budak tidak boleh menikah tanpa mendapatkan izin dari tuannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jabir berikut ini :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- )أَيُّمَا عَبْدٍ تَزَوَّجَ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهِ فَهُوَ عَاهِرٌ  [22]

Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa seorang budak menikah dengan tanpa izin tuannya, maka dia adalah orang yang berzina”.

Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat pula, lafadz berikut ini dalam surat al-Nisa ayat 3 (فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ) itu tidak mungkin budak termasuk di dalamnya tanpa adanya seorang tuan, sehingga mereka berdalih pula dengan surat al-Nisa ayat 4 berikut ini:

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ

“Kemudian jika mereka menyerahkan kamu sebagian dari (maskawin) itu”

Ayat tersebut di atas tidak mencakup kepada budak, karena budak tidak memilikinya, bahkan sesuatu yang diberikan kepada budak adalah milik tuannya, maka sesungguhnya orang yang memberi makan pun seorang tuan, bukan seorang budak, begitulah dalih dari kalangan Hanafiyah dan Syafi’iyah.[23]

Salah satu keunggulan dalam kitab tafsir al-Munir ini pula adalah pembahasan tentang suatu hukum beserta perbedaan pendapat para ulama, begitu pula dalam hal poligami ini. Wahbah al-Zuhaili menyebutkan tentang berbagai pandangan para ulama tentang orang yang menikahi isteri ke lima padahal ia telah mempunyai 4 orang isteri. Wahbah al-Zuhaili membahasnya dengan menampilkan berbagai pendapat para ulama yang berbeda-beda menanggapi hal tersebut, di antarnya ialah pendapat Malik, al-Syafi’i, dan Abu Tsaur. Mereka berpendapat bahwasanya orang itu terkena hadd, apabila ia tahu hukumnya. Al-Zuhri berpendapat tentang hal ini, bahwa laki-laki itu dirajam apabila ia mengetahui hukumnya, sedangkan apabila laki-laki itu tidak mengetahui hukumnya, maka ia lebih dekat pada 2 hadd, yaitu cambuk, memberikan maharnya, dan memisahkan mereka berdua selamanya. Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa laki-laki itu tidak terkena hadd sedikitpun. Berbeda pula pendapat dari al-Shahibani (Abū Yūsuf dan Muhammad) bahwasanya laki-laki itu tekena hadd hanya pada pernikahan yang diharamkan, bukan selain pernikahan itu, diantara pernikahan yang diharamkan adalah menikah dengan wanita majusi, menikahi isteri yang ke lima, nikah mut’ah, nikah dengan tanpa saksi, dan menikahi seorang budak dengan tanpa izin tuannya.[24]

Ketiga, pembatasan atas satu isteri saja itu bersifat wajib ketika khawatir akan adanya kedzaliman, karena makna lafadz (فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً) adalah jika merasa khawatir ketika menikahi isteri lebih dari satu dapat berbuat kelaliman di antara para isteri, sebagaimana Firman Allah swt. Dalam surat al-Nisa ayat 129 :

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ

“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”.

Maka barang siapa yang khawatir akan hal itu, maka ringkaslah atau batasilah pada seorang isteri saja atau atas budak yang berada dalam perlindunganmu, maka hal itu tidak wajib membagi di antara mereka, akan tetapi mustahabb, barang siapa yang melaksanakannya  maka baik, sedangkan yang tidak melaksanakannya tidak mendapat dosa.[25]


[1] Abdul Bari Syaifuddin, Ensiklopedia Indonesia, Edisi Khusus, (Jakarta: Ictiar Baru Van Haeve, tt.), hlm. 2734

[2] K. Ali, Sejarah Islam “Tarikh Modern”, 1996, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), hlm. 21.

[3] Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reprodukdi Perempuan, 1997, (Bandung: Mizan), hlm. 42.

[4] Nasruddin Baidan, Tafsir bi al Ra’yi “Upaya Penggalian Konsep Wanita dalam al Quran”, 1999, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar), hlm. 28

[5] Nasruddin Baidan, Tafsir bi al-Ra’yi “Upaya Penggalian Konsep Wanita dalam al Quran”, 1999, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar), hlm. 95-96.

[6] Muhammad Alfatih Suryadilaga, Sejarah Poligami Dalam Islam, 2002, (Jurnal Musawwa)

[7]  Ahmad Warson Munawwir, 1997. Kamus al Munawwir,(Pustaka Progresif:Surabaya). Hlm. 905.

[8] Wahbah al Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 566

[9] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 566

[10] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 567

[11] ibid.

[12] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 567

[13] Wahbab al-Zuhaili, Ta’addud al-Zaujāt, al-Mabda’ wa al-Nadhariyyah wa al-Taṭbῑq, 2000, (Dār al-Maktabi: Damaskus), hlm. 10.

[14]  Ibid. hlm. 16.

[15] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al-Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 568.

[16] Ibid.

[17] Ibid. hlm. 568-569.

[18] Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sajastani, Sunan Abi Daud, tt, (Bait al-Afkār al-Dauliyah:Riyadh), Juz II Bab al-Qasmi Baina al-Nisa, hlm. 208.

[19] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 572.

[20] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 572.

[21] Al-Hafidz Jalil bin Bakr bin al-Husain, Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, 1344 H, Juz VII, Bab Nikah al-‘Abdu wa Thalaquhu, hlm. 158.

[22] Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sajastani, Sunan Abi Daud, tt, (Bait al-Afkar al-Dauliyah:Riyadh), Juz II Bab Fii Nikah al-‘Abdi Bighairi Idzni Mawalih, hlm. 188.

[23] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 572-573.

[24] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 573

[25] Wahbah al-Zuhaili, Tafsῑr al-Munῑr, 2005, (Dār al Fikr: Damaskus) Juz II, hlm. 573

Pos ini dipublikasikan di Tafsir dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s